Senin, 24 November 2008

Resensi Penulis

Andrea Hirata


Andrea Hirata, lahir di Belitong. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains, fisika, kimia, biologi, astronomi dan tentu saja sastra. Edensor adalah novel ketiganya setelah novel-novel best seller Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.


Andrea lebih mengidentifikasikan dirinya sebagaiseorang akademisi dan backpaker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggal di dunia, Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswaUni Eropa untuk Studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom.


Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum loude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah.

Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT. Telkom, hobinya naik komidi putar. Komunikasi dengan Andrea dapat melalui www.sastrabelitong.multiply.com

Judul Buku : Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza:
Rangsangan Baru Untuk Melejitkan "Word Smart"
Penulis : Hernowo
Cetakan : Pertama, Februari 2003
Penerbit : Kaifa, Bandung
Tebal : 276 hlm
Harga : Rp. 37.000,00

Bagaimana menikmati kelezatan sebuah buku? Yang jelas, buku bukanlah sesuatu yang menakutkan yang harus dihindari dan dibenci. Buku adalah makanan rohani yang sangat bergizi bagi tubuh kita. Buku merupakan makanan untuk jiwa dan pikiran. Buku adalah obat untuk luka, penyakit dan kelemahan-kelemahan perasaan dan pikiran manusia. Untuk itu, perlakukan buku seperti makanan yang kita sukai. Seperti sepotong pizza hangat yang siap disantap.
Untuk mencicipi kelezatan buku maka pembaca harus mencari apa yang menarik dari buku itu. Selanjutnya adalah membaca buku dengan ngemil, seperti ngemil sedikit demi sedikit.
Disinilah Hernowo sebagai penulis berhasil mengubah buku menjadi sesuatu yang ringan dan menyenangkan. Sedangkan kata Word smart dapat dimaknai sebagai cerdas kata, kecerdasan linguistik atau kecerdasan berbahasa. Buku ini secara atraktif juga menawarkan kiat-kiat membaca dan menulis buku yang ampuh. Diantaranya, bagaimana membaca aktif, bagaimana menyerap gizi buku secara maksimal, membaca secara kreatif, membaca imajinatif dan bagaimana cara menghasilkan tulisan yang bertenaga. Buku ini juga kaya dengan ilustrasi sehingga tidak membuat pembaca mudah jenuh. Setiap ilustrasi dilengkapi dengan penjelasan secara rinci. Sehingga buku ini nikmat dan renyah untuk dinikmati seperti sepotong pizza.


Minggu, 23 November 2008

Tips Membaca Cepat (1)


Salah satu perbedaan yang menyolok antara kuliah di sini dengan di Indonesia adalah jumlah bacaannya. Di sini bacaannya banyak sekali ! Dan bacaan ini harus dibaca sebelum kuliah. Sekedar gambaran, bacaannya biasa berupa paper yang panjangnya belasan sampai dua puluhan halaman dan untuk setiap kuliah bisa 2-3 paper seperti itu. Akhirnya untuk membaca saja butuh waktu berjam-jam.

Karena tekanan yang seperti ini saya jadi lebih tertantang untuk mengembangkan teknik membaca cepat. Untuk sekarang ini saya sedang belajar membaca cepat dengan dua hal saja, yaitu:

  1. Menghilangkan subvokalisasi
    Subvokalisasi ini adalah suara yang biasa “ikut membaca” di dalam pikiran kita. Jadi waktu kita membaca, di dalam pikiran kita seperti ada suara yang menyuarakan bacaan itu. Ternyata ini sangat menghambat kecepatan membaca, karena otak kita sebenarnya mampu membaca dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada suara di dalam pikiran kita itu. Karenanya salah satu teknik membaca cepat adalah dengan menghilangkan suara ini. Tidak mudah memang karena sudah jadi kebiasaan bertahun-tahun, tapi bagaimana pun kita perlu belajar melakukannya.
  2. Jangan kembali ke belakang
    Nah, ini malah lebih sulit lagi. Kalau kita sudah melewati suatu bagian bacaan maka jangan sekali-kali mengulang lagi bagian itu. Baca terus dan maju terus. Ada yang terlewat ? Jangan hiraukan, maju terus ! Ada kata-kata yang hilang ? Jangan hiraukan juga, maju terus ! Pokoknya maju terus pantang mundur ! Intinya di sini adalah kita harus membaca untuk mendapatkan ide, bukan untuk mendapatkan kata per kata (lihat juga post Ide per Menit). Kembali ke belakang akan sangat mengurangi kecepatan membaca kita sementara dengan maju terus toh idenya akan kita dapatkan.

Kategori Tips Produktivitas - Oleh Donald